“Hei Yuda! Jangan gitu, dong. Siapa yang mau patungan bayar kamar lagi?”
Tiba-tiba saja gentakkan suara Toju terngiang dalam benak. Sudah dua bulan ini ibuku berkirim surat. Surat yang selalu memaksa untuk dibalas cepat. Tak mengerti aku dibuat. Karena situasi sedikit sering mengikat. Kala sore aku pulang. Membawa makan yang bisa dibeli tanpa hutang. Memang hidup di ibukota tanpa berbekal relasi yang cukup kuat membuat manusia sering sekali tak tertopang. Upah yang kuterima pun, tak lebih dari cukup. Namun setidaknya aku mampu bertahan, tanpa menyusahkan siapapun.
Kusewa kamar kecil di sudut gang dekat tempatku biasa mencari uang. Dengan harga yang terbilang murah, kami tak kerepotan untuk memikirkan. Terlebih pemiliknya adalah seorang duda yang sangat ramah. Jalanan terlihat remang. Kawasan yang jarang penerangan, sering menjadi sasaran tindak kejahatan. Namun tidak dengan ini. Penduduknya yang tak lebih hanyalah para buruh pasar, membuat maling malas untuk mencuri emas siasaan yang jika dijual pun, tak mampu untuk membayar sewa kontrakan.
Kubuka pintu kayu yang nampak tak terusus dengan malas. Lelah yang tak seimbang membuatku kian lemas. 10 jam mengangkut barang, kini saatnya ototku menegang dan menuntut untuk diurut. Aku hanya mampu mengangkat lalu menopangnya dengan kursi kecil untuk menetralisir dari pegal yang berlebihan. Kutulis pesan dalam sepucuk kertas. Semoga saja Toju tak datang hingga esok siang.
***
“Permisi! Pos!”
Sontakku keluar segera. Meraih sarung motif kotak yang tergantung pada paku. Ada sedikit sentuhan basah pada rambutku. Ah, tukang pos ini lagi. Tukang pos yang biasa mengantar surat untukku. Surat dari ibu tepatnya. Apakah ini surat dari ibu lagi?
Kubuka ujung kiri amplop.
“Yudas Sitorus,
Mungkin saja ini surat terakhir dari ibu, .... ”
Tak kubaca semua isi surat. Sudah kutebak ini adalah wujud kesal ibu membujukku untuk pulang. Kulipat segera surat itu, lalu kumasukan dalam ransel. Jam delapan kurang lima. Kugendong satu ransel serta satu jinjingan kardus besar.
Sepucuk kertas kulipat di atas meja kecil tempat biasa aku dan Toju menaruh gelas dan piring. Kupastikan kali ini tak ada yang tertinggal. Dengan sedikit doa keselamatan, kukunci pintu dan meletakan kuncinya di atas jendela.
“Hei Yuda! Beneran pulang, nih?” teriak Toju yang tak kusadar berada di belakangku.
“Dengar Toju, saya punya ibu rewel sekali. Delapan surat saya simpan selama dua bulan terakhir. Dia minta saya untuk segera pulang. Doakan saja semoga saya kembali lagi. Ada kertas di atas meja, mudah-mudah kamu senang, Toju.” Kataku seraya menjabat keras tangannya.
***
Tubuhku lemas. Tenggorokanku kian memerih setelah muntah yang ku sendiri tak sanggup mengitungnya. Sehari-hari yang terpikir hanyalah, segera sampai.
“Yudas! Mama, yudas! Horas Yudas!” teriak Maria dari kejauhan.
Lambaian tanganku membalas sapaannya. Sedikit cepat, langkah kaki kuderapkan untuk segera sampai rumah. Sambutan hangat dari orang kampung begitu semarak. Membuatku senang sesaat dan kembali risau jika tersadar jika aku sudah tiba di rumah, di kampung bapak. Beberapa saudara datang menjenguk ke rumah. Langsung kusantap Bika Ambon sebagai pelepas lelah. Semua orang tak mengira aku akan tiba hari ini. Dan kini, aku harus menjawab pertanyan sama yang terulang ejak tadi.
“Sudah, sudah! Biar Yudas istirahat dulu, mari ke ruang tengah.” Ujar ibuku seraya mengusir halus kerumunan tetangga.
***
“Hei Peni, jangan biarkan Yudas pergi lagi. Dia cocok sekali menggantikan posisi ayahnya. Sudah satu tahun kampung ini diurus oleh Ranai yang tak bijak itu,”
“Betul itu, Peni. Buat dia senyaman mungkin tinggal dikampung ini. Berikan yang ia suka, asal ia mau jadi kepala adat kampung sini. Wanita, harta, segalanya? Apa yang tak ia dapatkan?”
“Saya paham sekali. Tapi... hanya satu yang ia butuhkan. Bapaknya. Itu saja. Kau mampu beri, kah?”
Terdengar perbincangan ibu dan para wanita petinggi adat di depan dari kamarku. Semenjak ayah meninggal, aku tak mampu untuk tinggal di kampung ini lagi.
Kampung sejuta kenangan dengannya yang begiu mengiris, jika aku harus tinggal lama. Aku? Kepala adat? Lucu sekali jika mereka mengganti sosok bapak dengan gadis kampung. Mungkin Derina atau Juana yang akan disuguhkan, yang aku sama sekali tak suka. Jika sampai hati aku berbuat, kupinang semua gadis di kampung ini.
***
Sehari saja hidup di kampung, siang terasa begitu lama menjemput kelam. Panas sekali hati ini dibuat. Aku tak sanggup jika harus begini terus. Seolah aku mati perlahan dengan perih yang mengikis setiap inci memoriku dengan bapak. Apa salahku Tuhan? Hingga kau kutuk aku menjadi anak yang begitu taat pada bapak dan barang sedikitpun tak rela ditinggalkan? Mengapa Tuhan? Mengapa kau buat ia pergi begitu cepat sampai aku tak sempat memperlihatkan cucunya dariku?
Hari-hari kukunci pintu kamar. Tak bergerak sampai kulapar dan haus. Deraian air mata sedikitnya
mengalir kala sore. Membuatku semakin gila dan terlihat begitu sengsara. Wajahku nanar. Beberapa jerawat sepertinya mulai senang bersemat di wajahku. Hingga kali ini kuhirau ketukan pintu.
“Jangan paksakan, ibu. Sampai mati aku begini jika mereka paksa saya, ibu.” Kataku lemas.
“Oh, tidak Yudas. Jalanlah! Ibu sudah rela, sangat rela!”
Segera kukemas barang yang keperlu. Menunggu malam, hingga tak ada siapapun yang tahu kecuali ibu.
Bekasi 30.07.16


0 komentar:
Posting Komentar