Setelah ingat bahwa saya memiliki forum diskusi Islam via
aplikasi, saya memberanikan diri untuk bertanya,
“Adakah seorang mualaf
yang bisa saya hubungi?”
Dari sekian banyak anggota dalam forum diskusi, hanya ada dua yang mengaku sebagai mualaf. Tanpa basa-basi, sesaat setelah membaca balasan pertanyaan saya di grup, seketika saya hubungi nomor yang mengaku mualaf tadi.
“Kenapa ukhti? saya mualaf.”
“Oke deh. Gini teh, saya bermaksud untuk membuat cerita inspiratif. Saya rasa kalau mengungkit tema mualaf sepertinya seru. Apakah teteh berkenan?”
“Saya yang malu takut jadi riya.” Balasannya sesaat kemudian.
“Ngga apa-apa, teh.” Kataku meyakinkan.
Dari sekian banyak anggota dalam forum diskusi, hanya ada dua yang mengaku sebagai mualaf. Tanpa basa-basi, sesaat setelah membaca balasan pertanyaan saya di grup, seketika saya hubungi nomor yang mengaku mualaf tadi.
“Kenapa ukhti? saya mualaf.”
“Oke deh. Gini teh, saya bermaksud untuk membuat cerita inspiratif. Saya rasa kalau mengungkit tema mualaf sepertinya seru. Apakah teteh berkenan?”
“Saya yang malu takut jadi riya.” Balasannya sesaat kemudian.
“Ngga apa-apa, teh.” Kataku meyakinkan.
Namanya Valentina Anita Koentjorowati. Sejak kecil ia
adalah penganut Khatolik yang taat. Pergi ke gereja pun terasa sangat
menyenangkan baginya. Bahkan nama depannya pun (Valentina) adalah wujud
dari pembabtisan yang disematkan karena ketaatannya. Saat di bangku
menengah pertama ia semakin taat dan patuh menjalani rutinitasnya sebab
lingkungan sekolah sangat mendukung, meski ia bersekolah di sekolahan
negeri.
Namun begitu memasuki jenjang yang lebih tinggi, rasa aneh
kian menyelinap di hatinya tentang ajaran Trinitas. Ajaran itu mulai
membingungkannya. Tetapi karena lingkungan yang masih mendukung,
patutlah jika ia masih menikmati tiap harinya dengan ketaatan ajaran
gereja. Hingga menginjak pada tahun penghujung berada di bangku menengah
atas, ia mulai dekat dengan seorang teman laki-laki muslim. Tetapi
tidak lama setelah itu, mereka bubar karena masalah kepercayaan.
Beberapa waktu tak menjalin hubungan dengan satu pun pria,
akhirnya ia pun dekat dengan seorang pria yang sayangnya seorang muslim
pula. Dibanding sebelumnya, hubungan mereka kini mampu bertahan selama
bertahun-tahun sampai mereka memasuki bangku perkuliahan bahkan hingga
mendekati lulus sarjana. Ia tetap rajin dan taat di gereja, tapi mulai
tidak nyaman dengan ajaran-ajaran yang diberikan Pastur. Hubungannya
dengan pria muslim tersebut semakin kalang-kabut. Tak tahu akan dibawa
dan diapakan kelak. Karena masing-masing dari mereka mempertahankan
keyakinan, akhirnya hubungan mereka bubar karena keyakinan. Seusai itu,
beberapa kali ia menjalin hubungan dengan pria yang rupanya berstatus
agama Islam, hingga ia mulai bingung mengapa Tuhan bapa tidak pernah
mendekatkan dirinya dengan laki-laki yang seiman. Dan hubungan mereka
berakhir tragis kembali.
Kian hari, keganjilan akan ajaran Trinitas semakin membuatnya menyimpan
tanda tanya besar. Hingga pertanyaan aneh seperti mengapa Tuhan bapa
rela membiarkan anaknya (Yesus) disiksa dan disalib, sempat terlontar
untuk para pastur. Sampai suatu hari, ia pasrah akan kebingungannya
seraya berdoa,
“Jika Tuhan memang menghendaki saya berislam, berilah saya suami yang taat dan mampu mengajarkan agama yang tidak membuat saya bingung seperti ini.”
“Jika Tuhan memang menghendaki saya berislam, berilah saya suami yang taat dan mampu mengajarkan agama yang tidak membuat saya bingung seperti ini.”
Dan benar saja, pada saat ia dilarikan ke rumah sakit sebab patah
tulang, di situlah ia menemukan jawaban dari doa yang ia panjatkan.
Seorang dokter muslim yang taat mengaku menyukainya. Sempat gempar meski
hanya beberapa saat saja, karena ia masih seorang penganut khatolik
waktu itu. Namun akhirnya, ia memilih dipinang oleh dokter muslim dan
menyerukan dua kalimat syahadat tepat seminggu sebelum pernikahannya
dilangsungkan.
Kini ia telah memiliki dua orang anak yang mengikuti jejak ayahnya sebagai dokter. Tinggal di kota Surabaya dengan iman Islam yang mampu meghapus kebingungan beragama kala dulu.



