Jumat, 18 November 2016
Kamis, 01 September 2016
Dzulhijjah in Bright
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته....
Alhamdulillah...
Semoga kita semuanya selalu mendapat rohmat Allaah swt...
🎯 Sekedar mengingatkan bahwa: *"Besok hari Sabtu, tanggal 03 September 2016 bertepatan tanggal 1 Dzulhijjah 1437 H."*
🎯 *Pahala dan Keutamaan 10 hari Pertama Bulan Dzulhijjah.*
*Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra bahwasanya Rasulullah saw bersabda :*
📝 *Hari 1 bulan Dzulhijah*
Adalah hari di mana Allah swt mengampuni dosanya Nabi Adam AS. Barang siapa berpuasa pada hari tersebut, Allaah swt akan mengampuni segala dosanya.
📝 *Hari 2 bulan Dzulhijah*
Adalah hari di mana Allaah swt mengabulkan doa Nabi Yunus AS dengan mengeluarkannya dari perut ikan. Barang siapa berpuasa pada hari itu seolah olah telah beribadah selama satu tahun penuh tanpa berbuat maksiat sekejap pun.
📝 *Hari 3 bulan Dzulhijah*
Adalah hari di mana Allah swt mengabulkan doa Nabi Zakaria. Barang siapa berpuasa pada hari itu, maka Allaah swt akan mengabulkan segala do’anya.
📝 *Hari 4 bulan Dzulhijah*
Adalah hari di mana Nabi Isa AS dilahirkan. Barang siapa berpuasa pada hari itu akan terhindar dari kesengsaraan dan kemiskinan.
📝 *Hari 5 bulan Dzulhijah*
Adalah hari di mana Nabi Musa AS dilahirkan, barang siapa berpuasa pada hari itu akan bebas dari kemunafikan dan adzab kubur.
📝 *Hari 6 bulan Dzulhijah*
Adalah hari dimana Alloh swt membuka pintu kebajikan untuk Nabi-Nya, barang siapa berpuasa pada hari itu akan dipandang oleh Allaah swt dengan penuh Rahmat dan tidak akan diadzab.
📝 *Hari 7 bulan Dzulhijjah*
Adalah hari ditutupnya pintu jahannam dan tidak akan dibuka sebelum hari kesepuluh lewat. Barang siapa berpuasa pada hari itu Allah swt akan menutup tiga puluh pintu kemelaratan dan kesukaran serta akan membuka tigapuluh pintu kesenangan dan kemudahan.
📝 *Hari 8 adalah hari Tarwiyah.*
Barang siapa berpuasa pada hari itu akan memperoleh pahala yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Allah swt.
📝 *Hari 9 adalah hari Arafah.*
Barang siapa berpuasa pada hari itu puasanya menjadi tebusan dosanya setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.
📝 *Hari 10 adalah hari Raya Iedul Qurban.* Barang siapa menyembelih Qurban, maka pada tetesan pertama darah Qurban diampunkan dosa dosanya dan dosa anak-anak dan istrinya.
_*Mohon maaf lahir batin...*_
_*Semoga bermanfaat selalu...*_
*امين... امين... امين...*
*يا رب العالمين...*
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Senin, 29 Agustus 2016
TANDA TANYA YANG TERLUNASI
Dari sekian banyak anggota dalam forum diskusi, hanya ada dua yang mengaku sebagai mualaf. Tanpa basa-basi, sesaat setelah membaca balasan pertanyaan saya di grup, seketika saya hubungi nomor yang mengaku mualaf tadi.
“Kenapa ukhti? saya mualaf.”
“Oke deh. Gini teh, saya bermaksud untuk membuat cerita inspiratif. Saya rasa kalau mengungkit tema mualaf sepertinya seru. Apakah teteh berkenan?”
“Saya yang malu takut jadi riya.” Balasannya sesaat kemudian.
“Ngga apa-apa, teh.” Kataku meyakinkan.
“Jika Tuhan memang menghendaki saya berislam, berilah saya suami yang taat dan mampu mengajarkan agama yang tidak membuat saya bingung seperti ini.”
Kini ia telah memiliki dua orang anak yang mengikuti jejak ayahnya sebagai dokter. Tinggal di kota Surabaya dengan iman Islam yang mampu meghapus kebingungan beragama kala dulu.
TIPS JITU CUCI PIRING ALA MISS.LAZY
![]() |
Holla good reader!
Mungkin beberapa di antara kalian masih begitu malas mencuci piring yang apalagi, piring tersebut kotor banget. Berminyak, lengket, ieuw ieuw banget, kan...
Tugas kalian pun, nggak berakhir di sini. Kalian masih harus cari sabun cuci piring yang ampuh untuk membersihkan noda pada piring tersebut. Walhasil, kalian (termaksud gue) jadi korban iklan para perusahaan sabun cuci piring yang slogannya pake kata-kata selangit.
Tapi sekarang...
Gue punya solusi. Cara mencuci piring ala mudah dengan berbagai jenis sabun apapun itu.
Nggak harus pake sabun cuci mahal, atau panggil tukang cuci restoran. Kalian bisa cuci piring sambil joget-joget di rumah.
These are the steps:
Step 1
"Taruh HP di tempat sekitar pencucian piring"
Dengan menaruh hangpon yang sedang diputarkan musik, mencuci piring akan semakin asyik.
Step 2
"Ambil perkakas yang paling kecil"
Di sini gue ngomong tentang sendok. Karena ia termasuk benda termungil di antara temen-temennya. Secara kasat mata, tingkat kejenuhan minyak yang bersemayam pada sendok cenderung lebih kecil dibandingkan dengan yang lain. Seperti piring, gelas atau wajan. Jadi, kalo mau nyuci piring pake limited sabun, kalian nggak akan kerepotan minyak sisa makannya pada menyebar.
Step 3
"Pilah perkakas yang terlihat begitu berminyak dan tidak"
Usahakan kalian mengklasifikasi kategori benda yang nggak begitu berminyak dan yang begitu berminyak. Kita bicara soal minyak. Kalau semuanya sudah terpisahkan, cuci perkakas yang tidak begitu berminyak dahulu. Setelah itu, perkakas yang begitu berminyak. Kalian nggak mau kan, kalau semua hasil cuciannya malah tambah kotor?
Alright good reader!
Jurus jitu sudah terpaparkan.
Soal sendok, misalkan kalian dapet sendok yang lebih berminyak ketimbang yang lain, kalian boleh cuci yang nggak terlalu berminyak dulu, deh.
Have a nice trial and,
Bye-bye!
Kamis, 25 Agustus 2016
SEPI SENDIRI
Hari-hari hilang
Semenjak kau datang dan pulang tak berbilang
Rundung sakit kini kudekap
Pilu bagai sahabat
Dan air mata kian deras mengalir
Mengalir jauh tanpa pernah pikir
Bahwa seharusnya ia berhenti
Mengerti sepi,
Aku sulit bersama lagi
Karena kau,
Sejatinya diri ini
Bekasi, 25-08-16
Rabu, 03 Agustus 2016
The bold new world (Part 1)
Selasa.
Di jadwal ngampus yang gue liat sebelumnya, nama gue ada di list kelas D. Kelas yang isi nama anaknya banyak berawal dari huruf M. Muhamad agus, muhamadin, muhamadiyah, murder dan sebagainya. Gue masih inget banget baju ama tas yang pertama kali gue pake buat ngampus. Baju coklat, rok coklat sama tas polo coklat yang ukurannya diatas rata-rata tas yang lain. Tas gendut yang ngga seukuran pake banget sama bodi gue. Tas pulang kampung. Tas maling. Tas teroris!!!
“Hai, kenalin Sandy. Kamu?” ngelempar senyum sambil nyodorin tangan.
“Oh ya. Magdalena. Kamu udah tanda tangan?” tanyanya
Heloo? Jelas-jelas gue baru duduk, disampingnya lagi. Pake nanya udah absen belom.
“Emm, belum tuh. Dimana yah?”
“Dibelakang. Ntar juga muter kok”
Sepuluh menit. Limabelas, duapuluh. Waktu terasa begitu lama. Gue nunggu absen, kenapa ngga muter ke gue?
“Hei, absennya dimana?” tanya gue ke Lena
“Oh ya. Kamu belom yah. Itu lho lagi dipanggilin namanya sama sidosen.”
Hadeh. Nasib.
“Dengerin aja dulu. Ntar juga kepanggil, kalo ada nama kamu,” jelasnya sambil plug-in earphone
Shit.
“Maksudnya?”
“Ada yang ngga ada namanya di list tadi.”
“Trus dia gimana?”
“Ya, dia keluar kelas. Cari kelas mana dia,”
Aura gue negativ. Feeling gue juga ngga karuan. Nasib buruk kayanya bakal mampir pagi ini. Sambil nunggu nama terakhir yang dipanggil, Gue rapihin buku. Masukin yang gue keluarin tadi kecuali binder dan pulpen.
“Len, aku keluar dulu yah. Makasih infonya.” salam terakhir dari gue mungkin aja itu emang yang terakhir.
“Oh ya. See you soon Sandy,”
She was the only one call Sandy.
Jumat, 29 Juli 2016
KEMBALILAH, YUDAS!
“Hei Yuda! Jangan gitu, dong. Siapa yang mau patungan bayar kamar lagi?”
Tiba-tiba saja gentakkan suara Toju terngiang dalam benak. Sudah dua bulan ini ibuku berkirim surat. Surat yang selalu memaksa untuk dibalas cepat. Tak mengerti aku dibuat. Karena situasi sedikit sering mengikat. Kala sore aku pulang. Membawa makan yang bisa dibeli tanpa hutang. Memang hidup di ibukota tanpa berbekal relasi yang cukup kuat membuat manusia sering sekali tak tertopang. Upah yang kuterima pun, tak lebih dari cukup. Namun setidaknya aku mampu bertahan, tanpa menyusahkan siapapun.
Kusewa kamar kecil di sudut gang dekat tempatku biasa mencari uang. Dengan harga yang terbilang murah, kami tak kerepotan untuk memikirkan. Terlebih pemiliknya adalah seorang duda yang sangat ramah. Jalanan terlihat remang. Kawasan yang jarang penerangan, sering menjadi sasaran tindak kejahatan. Namun tidak dengan ini. Penduduknya yang tak lebih hanyalah para buruh pasar, membuat maling malas untuk mencuri emas siasaan yang jika dijual pun, tak mampu untuk membayar sewa kontrakan.
Kubuka pintu kayu yang nampak tak terusus dengan malas. Lelah yang tak seimbang membuatku kian lemas. 10 jam mengangkut barang, kini saatnya ototku menegang dan menuntut untuk diurut. Aku hanya mampu mengangkat lalu menopangnya dengan kursi kecil untuk menetralisir dari pegal yang berlebihan. Kutulis pesan dalam sepucuk kertas. Semoga saja Toju tak datang hingga esok siang.
***
“Permisi! Pos!”
Sontakku keluar segera. Meraih sarung motif kotak yang tergantung pada paku. Ada sedikit sentuhan basah pada rambutku. Ah, tukang pos ini lagi. Tukang pos yang biasa mengantar surat untukku. Surat dari ibu tepatnya. Apakah ini surat dari ibu lagi?
Kubuka ujung kiri amplop.
“Yudas Sitorus,
Mungkin saja ini surat terakhir dari ibu, .... ”
Tak kubaca semua isi surat. Sudah kutebak ini adalah wujud kesal ibu membujukku untuk pulang. Kulipat segera surat itu, lalu kumasukan dalam ransel. Jam delapan kurang lima. Kugendong satu ransel serta satu jinjingan kardus besar.
Sepucuk kertas kulipat di atas meja kecil tempat biasa aku dan Toju menaruh gelas dan piring. Kupastikan kali ini tak ada yang tertinggal. Dengan sedikit doa keselamatan, kukunci pintu dan meletakan kuncinya di atas jendela.
“Hei Yuda! Beneran pulang, nih?” teriak Toju yang tak kusadar berada di belakangku.
“Dengar Toju, saya punya ibu rewel sekali. Delapan surat saya simpan selama dua bulan terakhir. Dia minta saya untuk segera pulang. Doakan saja semoga saya kembali lagi. Ada kertas di atas meja, mudah-mudah kamu senang, Toju.” Kataku seraya menjabat keras tangannya.
***
Tubuhku lemas. Tenggorokanku kian memerih setelah muntah yang ku sendiri tak sanggup mengitungnya. Sehari-hari yang terpikir hanyalah, segera sampai.
“Yudas! Mama, yudas! Horas Yudas!” teriak Maria dari kejauhan.
Lambaian tanganku membalas sapaannya. Sedikit cepat, langkah kaki kuderapkan untuk segera sampai rumah. Sambutan hangat dari orang kampung begitu semarak. Membuatku senang sesaat dan kembali risau jika tersadar jika aku sudah tiba di rumah, di kampung bapak. Beberapa saudara datang menjenguk ke rumah. Langsung kusantap Bika Ambon sebagai pelepas lelah. Semua orang tak mengira aku akan tiba hari ini. Dan kini, aku harus menjawab pertanyan sama yang terulang ejak tadi.
“Sudah, sudah! Biar Yudas istirahat dulu, mari ke ruang tengah.” Ujar ibuku seraya mengusir halus kerumunan tetangga.
***
“Hei Peni, jangan biarkan Yudas pergi lagi. Dia cocok sekali menggantikan posisi ayahnya. Sudah satu tahun kampung ini diurus oleh Ranai yang tak bijak itu,”
“Betul itu, Peni. Buat dia senyaman mungkin tinggal dikampung ini. Berikan yang ia suka, asal ia mau jadi kepala adat kampung sini. Wanita, harta, segalanya? Apa yang tak ia dapatkan?”
“Saya paham sekali. Tapi... hanya satu yang ia butuhkan. Bapaknya. Itu saja. Kau mampu beri, kah?”
Terdengar perbincangan ibu dan para wanita petinggi adat di depan dari kamarku. Semenjak ayah meninggal, aku tak mampu untuk tinggal di kampung ini lagi.
Kampung sejuta kenangan dengannya yang begiu mengiris, jika aku harus tinggal lama. Aku? Kepala adat? Lucu sekali jika mereka mengganti sosok bapak dengan gadis kampung. Mungkin Derina atau Juana yang akan disuguhkan, yang aku sama sekali tak suka. Jika sampai hati aku berbuat, kupinang semua gadis di kampung ini.
***
Sehari saja hidup di kampung, siang terasa begitu lama menjemput kelam. Panas sekali hati ini dibuat. Aku tak sanggup jika harus begini terus. Seolah aku mati perlahan dengan perih yang mengikis setiap inci memoriku dengan bapak. Apa salahku Tuhan? Hingga kau kutuk aku menjadi anak yang begitu taat pada bapak dan barang sedikitpun tak rela ditinggalkan? Mengapa Tuhan? Mengapa kau buat ia pergi begitu cepat sampai aku tak sempat memperlihatkan cucunya dariku?
Hari-hari kukunci pintu kamar. Tak bergerak sampai kulapar dan haus. Deraian air mata sedikitnya
mengalir kala sore. Membuatku semakin gila dan terlihat begitu sengsara. Wajahku nanar. Beberapa jerawat sepertinya mulai senang bersemat di wajahku. Hingga kali ini kuhirau ketukan pintu.
“Jangan paksakan, ibu. Sampai mati aku begini jika mereka paksa saya, ibu.” Kataku lemas.
“Oh, tidak Yudas. Jalanlah! Ibu sudah rela, sangat rela!”
Segera kukemas barang yang keperlu. Menunggu malam, hingga tak ada siapapun yang tahu kecuali ibu.
Bekasi 30.07.16



