Senin, 29 Agustus 2016

TANDA TANYA YANG TERLUNASI

Suatu sore ketika segelintir kebingungan terbendung dalam pikiran untuk menentukan tema dari pembahasan kisah inspiratif, seketika saja hati saya tertegun pada kata “Mualaf”. Yah, mungkin kali ini kisah inspiratif itu datang dari seorang mualaf. Namun, siapakah mualaf yang dimaksud? Barang seorang pun kawan mualaf tak pernah saya miliki. Berkawan dengan non muslim pun, saya rasa hanya terjadi sewaktu pada sekolah dasar.
Setelah ingat bahwa saya memiliki forum diskusi Islam via aplikasi, saya memberanikan diri untuk bertanya, 

“Adakah seorang mualaf yang bisa saya hubungi?”
Dari sekian banyak anggota dalam forum diskusi, hanya ada dua yang mengaku sebagai mualaf. Tanpa basa-basi, sesaat setelah membaca balasan pertanyaan saya di grup, seketika saya hubungi nomor yang mengaku mualaf tadi.
“Kenapa ukhti? saya mualaf.”
“Oke deh. Gini teh, saya bermaksud untuk membuat cerita inspiratif. Saya rasa kalau mengungkit tema mualaf sepertinya seru. Apakah teteh berkenan?”
“Saya yang malu takut jadi riya.” Balasannya sesaat kemudian.
“Ngga apa-apa, teh.” Kataku meyakinkan.

Namanya Valentina Anita Koentjorowati. Sejak kecil ia adalah penganut Khatolik yang taat. Pergi ke gereja pun terasa sangat menyenangkan baginya. Bahkan nama depannya pun (Valentina) adalah wujud dari pembabtisan yang disematkan karena ketaatannya. Saat di bangku menengah pertama ia semakin taat dan patuh menjalani rutinitasnya sebab lingkungan sekolah sangat mendukung, meski ia bersekolah di sekolahan negeri.

Namun begitu memasuki jenjang yang lebih tinggi, rasa aneh kian menyelinap di hatinya tentang ajaran Trinitas. Ajaran itu mulai membingungkannya. Tetapi karena lingkungan yang masih mendukung, patutlah jika ia masih menikmati tiap harinya dengan ketaatan ajaran gereja. Hingga menginjak pada tahun penghujung berada di bangku menengah atas, ia mulai dekat dengan seorang teman laki-laki muslim. Tetapi tidak lama setelah itu, mereka bubar karena masalah kepercayaan.

Beberapa waktu tak menjalin hubungan dengan satu pun pria, akhirnya ia pun dekat dengan seorang pria yang sayangnya seorang muslim pula. Dibanding sebelumnya, hubungan mereka kini mampu bertahan selama bertahun-tahun sampai mereka memasuki bangku perkuliahan bahkan hingga mendekati lulus sarjana. Ia tetap rajin dan taat di gereja, tapi mulai tidak nyaman dengan ajaran-ajaran yang diberikan Pastur. Hubungannya dengan pria muslim tersebut semakin kalang-kabut. Tak tahu akan dibawa dan diapakan kelak. Karena masing-masing dari mereka mempertahankan keyakinan, akhirnya hubungan mereka bubar karena keyakinan. Seusai itu, beberapa kali ia menjalin hubungan dengan pria yang rupanya berstatus agama Islam, hingga ia mulai bingung mengapa Tuhan bapa tidak pernah mendekatkan dirinya dengan laki-laki yang seiman. Dan hubungan mereka berakhir tragis kembali.
 
Kian hari, keganjilan akan ajaran Trinitas semakin membuatnya menyimpan tanda tanya besar. Hingga pertanyaan aneh seperti mengapa Tuhan bapa rela membiarkan anaknya (Yesus) disiksa dan disalib, sempat terlontar untuk para pastur. Sampai suatu hari, ia pasrah akan kebingungannya seraya berdoa,
“Jika Tuhan memang menghendaki saya berislam, berilah saya suami yang taat dan mampu mengajarkan agama yang tidak membuat saya bingung seperti ini.”
 
Dan benar saja, pada saat ia dilarikan ke rumah sakit sebab patah tulang, di situlah ia menemukan jawaban dari doa yang ia panjatkan. Seorang dokter muslim yang taat mengaku menyukainya. Sempat gempar meski hanya beberapa saat saja, karena ia masih seorang penganut khatolik waktu itu. Namun akhirnya, ia memilih dipinang oleh dokter muslim dan menyerukan dua kalimat syahadat tepat seminggu sebelum pernikahannya dilangsungkan.

Kini ia telah memiliki dua orang anak yang mengikuti jejak ayahnya sebagai dokter. Tinggal di kota Surabaya dengan iman Islam yang mampu meghapus kebingungan beragama kala dulu.

0 komentar:

Posting Komentar